Suaraku.net - Beberapa waktu lalu, kita dihebohkan postingan di salah satu media sosial atau pun di blog website. Judulnya membuat saya tertarik untuk segera membacanya.
"Indonesia dibodohkan dengan air mineral" Begitu headline nya .
"Berita apa lagi ini?"
"Bisa dihasut dengan apa lagi masyarakat Indonesia?"
"Isu pangan apalagi yang mau dilebih-lebihkan?"
Berentetan pertanyaan sempat muncul, Ya
padahal saat itu belum membaca isi artikelnya namun Baru membaca judulnya saja.
Pada artikel jelas disebutkan satu merek dagang air mineral yang diikuti
dengan sejumlah hal-hal menakutkan berujung kematian di belakangnya.
Pada artikel, dituliskan satu jenis zat yang terkandung di dalam air
mineral tersebut yang terdengar menjadi sangat berbahaya setelah
membacanya. "Fluorida" namanya. Saya tidak mengatakan bahwa segala efek
negatif yang ditimbulkan oleh zat sebagaimana tertulis di artikel
tersebut adalah salah, tidak.
Sya juga bukan penulis bayaran yang
dikirim oleh suatu perusahaan untuk membersihkan nama dan Saya juga bukan seorang
karyawan yang bekerja di perusahaan terkait.
Hanya saja memang perlu
pengetahuan lebih lanjut menyingkapi hal-hal seperti ini.
Fluorida adalah salah satu jenis mineral alami, yang sejatinya memang
merupakan salah satu zat gizi mikro yang dibutuhkan oleh tubuh. Fluorida
jika dikonsumsi dalam jumlah cukup, bermanfaat dalam kesehatan gigi dan
mulut. Sekali lagi, dalam jumlah yang CUKUP.
Perlu diketahui bahwa peredaran produk pangan khususnya di Indonesia,
tidak sembarangan. Cukup panjang proses suatu produk pangan dapat dijual
bebas di pasar. Registrasi, keamanan pangan, label, kandungan,
kehalalan, dan lain-lain.
Dan terlebih untuk produk di bawah naungan
perusahaan pangan ternama yang sudah beredar bahkan sampai mancanegara,
bukan suatu hal yang mudah untuk dapat dikonsumsi khalayak.
Berbagai
kandungan di dalam pangan harus tercatat, harus diteliti, harus aman!
Setiap bahan pangan memiliki peraturan-peraturan yang mengaturnya agar
tidak akan membahayakan khalayak.
Mengenai fluorida, melalui Peraturan
Menteri Kesehatan RI No. 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan
kualitas air minum, pemerintah telah menetapkan batasan kandungan
fluorida dalam air minum yakni tidak lebih dari 1.5 mg/l (ppm). Nilai
batasan yang sama juga ditetapkan oleh World Health Organization (WHO,
2011) yakni 1.5 mg/l (ppm).
Bahkan, di Indonesia, terdapat SNI (Standar
Nasional Indonesia) No. 01-3553-2006 mengenai Air Minum dalam Kemasan
(AMDK) yang menyebutkan batasan kandungan fluorida lebih ketat lagi,
yakni maksimal 1 mg/l (ppm).
Terkait batasan penggunaan fluorida dalam
air minum ini, tercatat dalam produk air minum merek ter'sangka'
mengandung fluorida yang tidak lebih dari 0.5 mg/l (ppm). Angka ini
dapat terbilang jauh di bawah batas yang ditetapkan SNI, bahkan Menteri
Kesehatan dan WHO.
Penting untuk diketahui bahwa dalam suatu industri
pangan, terdapat bagian quality assurance dan quality control yang
senantiasa melakukan pengecekan dan pemantauan kualitas secara berkala
demi konsistensi kualitas produk pangan yang dihasilkan. Selain itu
produk air minum ini tercatat telah memiliki sertifikat SNI yang artinya
produk ini dipantau berkala oleh Lembaga Sertifikasi Produk.
Kalau dipikir-pikir, kalau air mineral saja berbahaya, kita harus minum apa lagi?
Semoga kita semua bisa tetap waspada terhadap berita sejenis yang beredar.
Yang pasti manusia tidak dibodohkan dengan sebotol air mineral tapi, Seperti yang dilansir oleh The Telegraph (13/03), sebuah penelitian
terbaru dari Nicholas Carr menunjukkan bahwa manusia telah berubah sejak
munculnya teknologi. Baik dari segi kebiasaan maupun produktivitas, apa
yang manusia lakukan dari masa ke masa berubah sedikit demi sedikit, Manusia Di Bodohkan Dengan Teknologi.
0 komentar:
Posting Komentar